Penyakit Parasit Pada Ternak Kambing

Berbagai jenis parasit dapat mengganggu kesehatan ternak. Secara umum parasit dapat digolongkan menjadi dua, yaitu parasit eksternal dan internal. Tingkat patogenitas penyakit parasit ini bervariasi dari ringan sampai sangat berat (kematian tinggi). Beberapa jenis penyakit parasit penting pada kambing dan domba adalah sebagai berikut.
1) Scabies (gudugan/gatal)
Scabies adalah penyakit kulit yang paling sering dan serius terjadi pada kambing. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Cara penularannya adalah kontak langsung dengan ternak sakit atau kontak dengan alat atau kandang yang tercemar.
Gejala
• Gatal
• Adanya penebalan apda kulit
• Nafsu makan berkurang
• Ternak kurus
• Bulu kusam, berdiri dan rontok
• Produktivitas menurun
• Ada gumpalan kecil-kecil terutama pada tubuh bagian depan, tetapi kadang-kadang diseluruh tubuh.
Penyebab
Scabies disebabkan oleh 2 jenis tungau, yaitu tungau kudis (sarcoptes scabei, sarcoptes communis var. Ovis, chorioptes ovis) dan tungau folikel bulu (demodex).
Pencegahan
• Jaga kebersihan peralatan kandang, peralatan dan ternak
• Hindari memasukkan ternak terinfeksi scabies kedalam kelompok ternak yang sehat
• Isolasi dan observasi (karantina) ternak baru sebelum masuk ke kelompok ternak yang sudah ada.
• Segera isolasi dan obati ternak yang terinfeksi
• Bersihkan atau cuci kandang tempat ternak dengan larutan asuntol 2% dalam air.
Pengobatan
• Pengobatan dilakukan dengan injeksi invermectin (ivomec) secara subkutan atau dibawah kulit. Penyuntikan dilakukan 2 kali selang waktu 14 hari. Dosis obat yang diberikan sesuai dengan rekomendasi yang tertulis pada kemasannya.
• Secara tradisional, petani sering melakukan pengobatan menggunakan campuran belerang dan oli (3 bagian belerang dan 1 bagian oli). Cara pengobatannya adalah sebagai berikut.
o Mandikan ternak dengan sabun, lalu gosok bagian yang terinfeksi scabies.
o Keringkan ternak yang sudah mandi.
o Oleskan campuran belerang-oli pada bagian yang terinfeksi.
o Letakkan pada kandang terpisah.
o Lakukan pengobatan samapai 3 kali sehari sampai sembuh.
2) Cacingan
Cacingan paling sering terjadi pada ternak yang digembalakan. Namun, penyakit ini dapat terjadi juga pada ternak yang dikandangkan jika pakan yang dikonsumsi tercemar oleh larva cacing. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian.
Gejala
• Ternak yang terinfeksi cacing akan menjadi kurus.
• Produksi menurun.
• Perutnya membesar.
• Anaemia (pucat kekurangan darah).
Penyebab
Beberapa macam cacing yang sering menginfeksi kambing, antara lain cacing gepeng, cacing giling lambung dan usus, dan cacing pita.
Pencegahan
• Berikan obat cacing secara teratur (setiap 3 bulan), terutama pada ternak yang digembalakan.
• Jaga kebersihan kandang.
• Pergunakan kandang punggung dengan lantai galar (slatted floor) sehingga feses dan urine langsung jatuh ke kolong kandang.
• Berikan rumput pada ternak yang berasal dari areal bebas penggembalaan. Pemotongan rumput dilakukan disiang hari untuk mengurangi jumlah cacing dan telur cacing pada rumput.
• Hindari penggembalaan ternak di sekitar kali, sawah, dan daerah berair karena biasanya banyak terdapat siput pembawa cacing.
• Rotasi penggembalaan secara teratur.
• Awasi ternak dengan baik. Jika ada tanda-tanda terinfeksi cacing, lakukan pengobatan dengan segera.
• Ganti pemakaian jenis obat cacing tertentu setiap 12 bulan untuk mencegah cacing jadi kebal atau terbiasa dengan obat tersebut.
Pengobatan
• Pengobatan secara modern dengan pemberian obat cacing. Dosis obat cacing sesuai rekomendasi yang diberikan. Jenis obat yang tersedia dipasaran, antara lain kalbasen dan valbazen.
• Pengobatan secara tradisional, yaitu dengan pemberian buah pinang pada ternak.
3) Kutu
Kutu dapat menghisap darah, menularkan penyakit, dan menyebabkan iritasi/gatal pada kulit. Jumlah kutu yang masih sedikit belum begitu mengganggu dan berbahaya.
Gejala
• Ternak menjadi pucat (anemia), lemah, dan kurus.
• Produksi susu dan pertumbuhan ternak menurun.
Pencegahan
• Mandikan ternak dengan menggunakan sabun.
• Potong bulu/wol secara teratur.
• Cek dengan cermat kutu-kutu yang ada pada ternak.
• Lakukan pengobatan dengan segera agar tidak menyebar ke ternak lainnya jika terlihat ada kutu.
Pengobatan
• Semprot atau mandikan (rendam) ternak dengan larutan insektisida, seperti larutan asuntil 0,1% (1 ml dalam air 1 liter). Perendaman dilakukan dengan hati-hati jangan sampai terminum atau kena mata.

Penyakit Viral Pada Ternak Kambing

Penyakit viral adalah yang disebabkan oleh virus. Penyakit viral umumnya dapat membunuh hewan dengan cepat. Namun, ada juga jenis yang merusak jaringan tubuh sehingga memberi peluang bagi pertumbuhan bakteri untuk menginfeksi hewan tersebut.
1. Pneumonia
Pneumonia merupakan gangguan pada saluran pernafasan. Penyakit ini sering terjadi pada kondisi cuaca dingin dan lembab, ventilasi kandang yang buruk, dan kepadatan ternak tinggi.
Penyebab :
Pneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.
Gejala :
Ternak yang terkena pneumonia kan mengeluarkan cairan ingus, lidah keluar, dan temperatur umumnya tinggi, dan nafsu makan berkurang. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.
Pengobatan :
Pemberian obat berupa injeksi antibiotik, seperti tetracycline, oksitetracycline dan pen strep.
Pencegahan :
• Hindari terjadinya stres pada ternak yang dapat mengakibatkan pneumonia, sperti ternak dalam tingkat kepadatan tinggi, temperatur dingin, kelembaban tinggi, dan kondisi transportasi yang buruk.
• Kandang selalu dalam keadaan bersih dan kering.

2. Orf/puru/dakangan
Penyakit orf umumnya akan berlangsung sekitar 1-4 minggu. Virus orf dapat hidup dilingkungan ternak dalam waktu yang lama biasanya ternak yang sembuh dari penyakit orf akan mempunyai kekebalan tubuh terhadap penyakit orf selama sekitar 1 tahun.
Penyebab :
Penyakit orf disebabkan oleh virus dari genus parapox virus yang dapat hidup lama di luar induk semang.
Gejala
• Lesi disekitar mulut/hidung/muka.
• Lesi juga bisa terlihat pada alis, kaki, ambing, dan skrotum
Pencegahan :
• Lakukan vaksinasi terhadap ternak yang masih sehat pada daerah tercemar oleh orf. Vaksinasi umumnya dilakukan pada umur 1 bulan dan diulangan pada umur 2-3 bulan
• Pisahkan ternak yang divaksin dari yang tidak divaksin sampai lesi hilang/bersih
• Pilih ternak yang sehat dan bebas orf saat membeli/meminjam ternak
• Bersihkan tangan dengan baik setelah menangani ternak yang terkena orf karena dapat ditularkan oleh manusia.
Pengobatan :
Pengobatannya dengan membersihkan ternak sambil digosok dengan larutan trusi (kalium permanganat), lalu diberikan salep antibiotik/yodium.
3. Pink eye (radang selaput mata)
Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai macam organisme termasuk bakteri dan virus. Pink eye sering terjadi pada ternak yang mengalami perjalanan jauh atau karena tertusuk benda tajam atau kena debu.
Gejala :
Infeksi pada selaput mata ini menyebabkan mata berair, kemerahan pada bagian yang putih dan kelopaknya, bengkak, dan lama-lama kornea mata menjadi keruh atau tertutup lapisan putih.
Penyebab :
Penyakit radang selaput mata ini disebabkan oleh mikroorganisme, termasuk bakteri dan virus. Beberapa diantaranya adalah chlamidia psittaci, mycoplasma conjuctive, moraxella bovis, ricketsia conjunctivae, colestota conjuktivae, lesteria monocytogenes type 04 dan ancholeplasma oculi. Yang paling jelas diketahui patogenitasnya adalah clamidia psittaci dan micoplasma conjuktive.

Pengobatan :
• Cek mata dengan teliti. Jika disebabkan benda keras, keluarkan benda tersebut dari mata dan bersihkan mata.
• Injeksi antibiotik (tetracyclin atau tylosin), atau oleskan salep terramycin 0.1%. biasanya mata akan sembuh dalam 1-2 minggu.
Pencegahan :
• Penyakit ini dapat menular sehingga ternak yang sakit hendaknya di isolasi (dipisahkan) dari ternak yang sehat
• Jaga kebersihan kandang
• Hilangkan benda-benda tajam yang ada di kandang

Penyakit Bakterial Pada Kambing

 

Penyakit bakterial adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Beberapa penyakit bakterial, antara lain sebagai berikut.

  • Brucellosis

Brucellosis sering juga disebut dengan penyakit bang demam malta, atau kluro. Penyakit ini terjadi dalam jumlah yang relatif kecil (sekitar 2%) yang ditemukan pada suatu populasi ternak. Penyakit ini dapat menular jika hewan memakan pakan yang tercemar atau menjilat material yang terkontaminasi bahan/cairan dari saluran reproduksi atau anak baru lahir dari induk yang terinfeksi brucellosis.

Gejala:

  • Terjadi ketimpangan pada kaki
  • Tinja yang keluar sedikit
  • Abortus/keguguran dalam waktu 4-6 minggu terakhir masa kebuntingan
  • Pada jantan terjadi pembengkakan pada persendian dan testis

Penyebab:

Bakteri yang termasuk spesies brucella, seperti brucella melitensis.

Pencegahan:

  • Vaksinasi semua ternak yang dipelihar pada lokasi atau tempat yang mempunyai sejarah adanya infeksi penyakit yang menyebabkan abortus
  • Jangan membeli atau meminjam ternak dari peternakan yang mempunyai kejadian abortus.

Pengobatan:

Abortus karena infeksi bakteri dapat diobati dengan antibiotik atau obat sulfa. Ternak yang abortus karena terinfweksi brucella harus dipotong dan dagingnya hanya boleh dimakan setelah mengalami pemasakan sempurna (mendidih). Selain itu ternak yang berada dalam satu pen harus dipindahkan ke kandang yang lain dan divksin atau diobati agar tidak terjadi penularan ke ternak lain. Spetus yang mati harus didesinfektan dan dibakar atau dikubur. Demikian pula kandang tempat ternak sakit dibersihkan dengan desinfektan.

  • Mastitis

Mastitis adalah penyakit infeksi pada ambing oleh bakeri.

Gejala :

  • Ambing terasa panas, sakit, dan membengkak.
  • Jika diraba, terasa ada yang mengeras pada ambing.
  • Warna dan kualitas air susu abnormal, misalnya ada warna kemerahan (darah), pucat seperti air, kental kekuningan atau kehijauan.

Penyebab :

  • Bakteri staphylococus spp, corynebacterium spp, stretococcu spp, atau baksil coli
  • Perlakuan yang kasar saat pemerahan sehingga mengakibatkan lecet pada ambing
  • Luka pada ambing akibat benda tajam pada dinding kandang dan perkelahian diantara induk-induk
  • Pemasangan mesin perah yang tidak tepat dan kotor

Pencegahan

  • Jaga kandang selalu dalam keadaan bersih dan kering
  • Cek ambing ternak pengganti sebelum masuk dalam populasi ternak yang akan dipelihara
  • Culling (keluarkan-potong) ternak yang terkena mastitis yang berulang-ulang.
  • Untuk kambing perah, jaga kebersihan sebelum dan sesudah pemerahan dengan cara sebagai berikut
  • Cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah pemerahan
  • Bersihkan ambing
  • Celupkan puting susu dalam larutan tip dip setiap kali selesai melakukan pemerahan. Tip dip dibuat dengan cara mencampurkan 250 ml cloroheksadine 2%, 45 ml gliserin, dan air sehingga menjadi satu liter larrutan.

Pengobatan :

Mastitis dapat diobati oleh antibiotik, seperti metrivet, mastivet, dan depolac. Pengobatan dilakukan dengan cara injeksi intramuskular, melalui puting susu atau kombinasi keduanya. Adapun tahapan pengobatan melalui puting susu adalah sebagai berikut.

  • Kosongkan atau perah ambin terlebih dahulu.
  • Masukan obat, lalu urut-urut puting susu secara perlahan.
  • Perah/kosongkan ambing paling tidak 3x sehari setiap pemerahan selalu diikuti dengan pemberian obat.
  • Basuh atau lap ambing dengan air hangat 2-3 kali/hari
  • Lakukan pengobatan setiap hari selama 3-4 hari atau sampai ternak benar-benar sembuh

 

  • Bisul (lumpy jaw)

Bisul/abses adalah penyakit pada kelanjar bening yang membengkak dan berabses. Penyakit ini jarang mematikan, kecuali jika menyerang urat nadi utama atau saraf di sekitar kepala atau kelenjar getah bening di dalam tubuh.

Gejala

  • Terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening dan berabses terutama di bawah rahang atau di depan punggung, paha, ambing, atau sekrotum.
  • Kelenjar membengkak 3-5 cm atau lebih dan terasa panas .

Penyebab

Bisul disebabkan oleh bakteri. Biasanya bakteri masuk pada ternak melalui luka.

Pencegahan

  • Hindari ternak kontak dengan benda-benda tajam, seperti paku yang dapat melukai ternak
  • Segera obati luka yang terjadi.
  • Jaga kebersihan kandang dan lingkungannya.

 

Pengobatan

Langkah pengobatan adalah sebagai berikut.

  • Sterilkan alat yang akan digunakan.
  • Pencet abses yang agak lembek dan menonjol atau belah dengan pisau steril untuk mengeluarkan nanah.
  • Bersihkan nanah atau kotoran yang keluar, lalu dibakar.
  • Bersihkan luka, lalu berikan jodium tinture.
  • Lakukan pengobatan seperti diatas harus berulang-ulang sampai sembuh.
  • Penyakit kuku (foot rot)

Foot rot disebabkan oleh infeksi bakteri pada kuku. Penyakit ini biasanya berpindah dari hewan terinfeksi ke tanah, kemudian baru ke kaki hewan tidak tertular. Oleh karena itu, tanah atau lantai kandang becek dan kotor meningaktkan kejadian penyakit foot rot.

Gejala :

Ternak akan terlihat pincang jika berjalan. Selain itu, kuku terlihat rusak dan berbau busuk.

Penyebab :

Foot rot disebabkan oleh 2 jenis bakteri yaitu fusobacterium necrophorus dan fusiformis nodosus.

Pencegahan :

  • Jaga kebersihan kandang
  • Hindari benda-benda tajam yang dapat menyebabkan luka pada kuku, seperti paku dan lantai kandang yang patah
  • Lakukan pemotongan kuku secara teratur

 

Pengobatan :

  • Bersihkan yang terinfeksi
  • Potong bagian kuku yang rusak
  • Rendam bagian kuku yang luka pada larutan berisi antibiotik atau antiseptik. Larutan rendaman dapat juga ditambahkan larutan 2-3% formalin atau 10% cupri sulfat
  • Bungkus bagian yang terluka
  • Letakkan ternak sakit pada kandang yang bersih

 

  • Antraks

Antrak merupakan penyakit yang sangat berbahaya pada ternak ruminansia dengan tingkat kematian yang tinggi. Penyakit ini juga dapat menginfeksi manusia penyerbarannya adalah melalui sporanya yang bertebaran di tanah, air, dan bahan pakan dan termakan atau terminum oleh ternak sehat.

Penyebab :

Antrak disebabkan oleh bacillus anthracis

Gejala :

  • Demam tinggi (41,5?C)
  • Stres
  • Selaput lendir mulut dan mata merah tua sampai ungu
  • Diare berdarah
  • Denyut nadi cepat dan lemah
  • Tidak mau makan
  • Kencing dan susu berwarna merah karena tercampur darah
  • Pembengkakan pada bagian lidah, kerongkongan, sisi tubuh dan daerah sekitar anus dan vulva.
  • Kematian dapat terjadi dari 2-6 jam (super akut) atau 48 jam (akut) setelah terinfeksi.

Pengobatan :

Penyuntikan dengan penicilin dosis 40.000 iu/kg berat badan. Penyuntukan dilakukan selama 5 hari berturut-turut.

Pencegahan :

  • Lakukan vaksinasi
  • Ternak yang mati dibakar atau dikubur pada kedalaman 2m

Mengobati Penyakit Pada Ternak Kambing

Ternak-ternak yang mudah sakit adalah ternak muda lemah, kekurangan pakan, atau bunting. Ternak yang mengalami stres akibat kandang kontrol, kualitas pakan rendah, atau kepadatan ternak yang tinggi juga akan lebih besar untuk jadi lebih sakit.

Penyakit ternak dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular.
a. Penyakit menular
Penyakit menular adalah penyakit yang dapat dipindahkan atau berpindah dari ternak yang sakit kepada ternak yang lain. Sebagai agen dari penyakit menular adalah mikroorganisme (virus, bakteri, dan jamur) serta beberapa parasit (parasit darah, cacing, dan caplak). Adapun cara penularan penyakit adalah sebagai berikut.
1) Terjadi kontak antara ternak yang sehat dengan ternak sakit karena ada dalam satu kandang atau berada dekat ternak sakit.
2) Ternak sehat yang ditempatkan pada kandang bekas ternak sakit, dimana bibit penyakit masih ada di kandang tersebut.
3) Penularan penyakit karena mikroorganisme yang dibawa insek, peternak atau angin
4) Ternak memakan rumput atau tanaman lain yang terkontaminasi bibit penyakit dan parasit
b. Penyakit tidak menular
Penyakit tidak menular adalah penyakit yang berhubungan dengan pakan, misalnya defisiensi mineral dan keracunan, baik oleh tanaman maupun racun. Penyebab ternak menjadi sakit antara lain sbagai berikut.
1) Ternak yang sehat memakan tanaman beracun. Beberapa tanaman mengandung substansi beracun bagi ternak. Jika dimakan dalam jumlah kecil tidak sampai mengakibatkan sakit. Namun, jika dimakan berlebih, pengaruhnya akan tampak.
2) Ternak secara tidak sengaja mengonsumsi bahan beracun, seperti insektisida atau herbisida yang disimpan tidak pada tempatnya atau kaleng bekas tempat pestisida tersebut digunakan sebagai tempat minum ternak, tetapi tidak dibersihkan dengan baik.
3) Ternak meminum air yang terkontaminasi bahan-bahan beracun

Menjaga Kesehatan Anak Kambing Prasapih

Apabila dapat mengonsumsi kolostrum dalam jumlah yang cukup, kambing anak tersebut sudah cukup kuat/sehat menghadapi kehidupan selanjutnya. Pemberian susu harus cukup agar anak tumbuh normal dan mencapai berat sapih 10-14 kg pada umur 3 bulan, tergantung jenis ternaknya. Selain itu, kebersihan kandang yang terjaga merupakan langkah lainnya agar ternak tetap sehat.
Gangguan kesehatan yang sering terjadi pada anak kambing, antara lain diare, pneumonia (gangguan saluran pernafasan), scabies, dan kejang-kejang. Jenis pengobatan yang diberikan trgantung penyebabnya. Sebaiknya, anak kambing atau domba yang sakit dikonsultasikan dengan dokter hewan setempat. Adapun tanda-tanda ternak sakit adalah sebagai berikut.
• Suhu badan naik
• Lemah
• Nafsu makan turun atau tidak mau makan sama sekali
• Hidung berlendir/keluar cairan dari hidung
• Frekuensi pernafasan naik
• Kontoran encer atau lembek
Diare dan pneumonia dapat diberi santibiotik, seperti streptomycin dan penstrech. Secabies diobati dengan penggunaan ivermectin (ivomex) yang disuntikan dibawah urine 2x dalam selang waktu 14 hari.

Menjaga Kesehatan Ternak Kambing

Pencegahan penyakit selalu lebih baik daripada pengobatan. Untuk menjaga kesehatan, kambing dan domba memerlukan penanganan dasar.

  1. Persiapan alat dan bahan

Bahan dan alat yang diperlukan dalam menjaga kesehatan kambing dan domba, diantaranya sebagai berikut.

  • Termometer sebagai alat pengukur suhu tubuh.
  • Syringe (3 cc dan 5 cc) dan jarum (18,20, dan 22 gauge) untuk penyuntikan obat.
  • Kapas untuk membersihakan luka yang akan diobati.
  • Desinfektan berupa alkohol dan yodium tinture.
  • Buffer berupa minyak goreng atau minuman mengandung soda bikarbonat untuk pengobatan perut kembung.
  • Obat cacing, seperti kalbazen dan vanlbazen.
  • Teat dip yang merupakan desinfektan setelah pemerahan susu.
  • Antibiotik, seperti terramycin, oxyterramycin, dan pen-strep.
  • Vitamin, seperti hematophan.
  • Gusanex sebagai obat semprot pada luka dan mencegah lalat hinggap pada luka.
  • Pisau atau gunting untuk meotong kuku.
  1. Penanganan kesehatan dasar

Kegiatan penanganan kesehatan dasar untuk ternak, di antaranya pemotongan kuku. Selain itu, diperlukan pencukuran bulu dan pemandian untuk ternak kambing dan domba

1.Memotong kuku

kambing dan domba yag selalu berada dalam kandang akan mempunyai kuku yang lebih panjang dari pada yang menggembala. Oleh karena itu, pemotongan kuku perlu dilakukan secara teratur. Keterlambatan dalam memotong kuku mengakibatkan kuku dadi panjang dan keras sehingga sulit dipotong. Berikut kerugian yang diakibatkan kuku ternak yang panjang.

  • Kuku panjang akan mengakibatkan ternak susah berdiri dan berjalan.
  • Ternak jantan jadi susah menaiki betina saat kawin.
  • Jika kuku patah, dapat terjadi luka dan infeksi.
  • Penyakit kuku yang sering terjadi pada kambing dan domba disebabkan bagian bawah kuku panjang umumnya sangat kotor dan merupakan sumber penyakit.

Pemotongan kuku dilakukan dengan cara ternak dipegang dalam posisi duduk di antara kedua kaki pemotong atau dipegang oleh orang lain.  Selanjutnya kotoran pada kuku bagian bawah dibersihkan dan kuku yang panjang dipotong

2. Memandikan ternak

Ternak, terutama domba, sekali-sekali perlu dimandikan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulit dan bulu. Selain itu, ternak yang dimandikan terlihat lebih bersih dan lebih menarik sehingga kemungkinan akan memperoleh harga yang lebih tinggi.

Ternak dimandikan dengan penggunaan sabunatau antiseptik lainnya. Tujuannya agar parasit luar, bakteri, dan jamur yang tumbuh pada kulit dan buludapat dicegah. Waktu memandikan sebaiknya dilakukan saat cuaca terang. Setelah itu, ternak dibiarkan dijemur sampai kering dibawah sinar matahari.

3. Mencukur bulu

pencukuran bulu umumnya hanya dilakukan pada domba yang berbulu panjang/wol. Wol yang kotor dan gempel merupakan tempat parasit dan dapat mengganggu kesehatan ternak.

Pencukuran pada kambing yang berbulu pendek tidak perlu dilakukan. Namun, bulu paha pada kambing betina lokal PE seaktu-waktu perlu dipotong. Bulu panjang disekitar paha kambing PE tersebut sebainya dicukur menjelang beranak. Tujuannya untuk menghindari kotoran dan darah menempel setelah melahirkan. Jika menempel, bulu tersebut dapat menjadi tempat lalat bertelur dan akhirnya tumbuh larva dan bisa terjadi luka.

Pemotongan bulu/wol dapat menggunakan gunting rambut atau alat pencukur wol khusus. Untuk memudahkan pencukuran , ternak dimandikan terlebih dahulu.

  1. Manajemen pemeliharaan kesehatan

Beberapa hal penting lain yang dapat dilakukan peternak untuk menekan kejadian penyakit adalah dengan melaksanakan manajemen pemeliharaan yang baik. Berikut cara menjaga kesehatan kambing dan domba.

  • Desain kandang yang baik dan benar. Kandang sebaiknya dibuat kandang panggung dengan lantai yang kuat. Dengan demikian, feses dan urine langsung jatuh ke kolong kandang sehinggan kandang jadi kering dan bersih.
  • Pakan yang diberikan harus cukup dalam jumlah dan gizinya (hijauan atau pakan tambahan).
  • Air minum tersedia setiap saat.
  • Sanitasi/kebersihan kandang/ pen, tempat pakan dan minum, ternak serta lingkungan kandang dijaga.
  • Ternak diberikan latihan secukupnya.
  • Program vaksinasi diberikan secara teratur
  • Kontrol parasit (internal dan external) dilakukan secara ketat.
  • Ternak yang sakit diisolasi dari ternak lainnya.
  • Lakukan pengamatan rutin pada setiap individual ternak dan segera ambil tindakan jika ada tanda-tanda yang tidak normal.

Mengenal Ciri Kambing dan Domba yang Sehat

Kondisi kesehatan ternak akan dapat dilihat dari ekspresi atau penampilan luarnya. Pada ternak kambing dan domba, tanda-tanda ternak sehat antar lain sebagai berikut.

  • Makan dengan baik.
  • Bulunya halus dan mengkilat.
  • Matanya cerah.
  • Bebas penyakit.
  • Kakinya kuat.
  • Sering melakukan ruminasi (mengunyah kembali pakan yang dimakan).

Adapun kondisi fisiologis normal kambing dan domba adalah sebagai berikut.

  • Temperatur tubuh 38-42.
  • Denyut jantung 70-80 kali/menit.
  • Frekuensi pernapasan 12-15 kali/menit.
  • Siklus berahi 18-24 hari atau rata-rata 20 hari untuk kambing; 14-18 hari rata-rata 17 hari untuk domba.
  • Lama berahi 12-48 jam.
  • Lama bunting 144-155 hari (rataan 150 hari).

Penanganan Hasil Pemerahan Susu Kambing

Target akhir dari usaha peternakan kambing perah adalah untuk mendapatkan produksi susu dalam jumlah yang tinggi dan berkualitas baik. Tingkat produksi dan kualitas produksi tidak selamanya berkorelasi positif, bahkan bisa terjadi bertolak belakang. Hal tersebut disebabkan banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap kedua parametertersebut. Terlepas dari faktor-faktor yang berperan dalam produksi dan kualitas susu, hal yang sangat penting yang harus diperhatikan adalah cara penanganan susu pascapanen agar dapat dipertahankan dalam waktu yang lebih lama. Dengan demikian, susu sampai dikonsumen tanpa mengalami perubahan kualitas yang berarti. Penanganan pascapanen yang salah akan menurunkan kualitas dan ini akan berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh dari penjualan susu tersebut.

  1. Penyaringan

Susu pada pemerahan menggunakan mesin perah langsung tertampung dalam kontainer tanpa mengalami persinggungan dengan lingkungan di luar dari sistem mesin perah tersebut. Dengan cara ini tingkat kebersihan susu akan lebih terjamin sepanjang kebersihan peralatan mesin pemerah dapat dijaga. Sebaliknya, susu hasil pemerahan dengan tangan, besar kemungkinan terkontaminasi oleh benda-benda asing yang diperoleh selama proses pemerahan. Oleh karen itu, susu langsung disaring menggunakan kain bersih setelah diperah. Tujuannya untuk membersihkan susu dari bulu atau kotoran yang masuk ke dalam susu.

  1. Pasteurisasi

Susu merupakan media yang sangat baik bagi perkembangan mikroba. Untuk menjaga susu tetap higienis, sebaiknya dilakukan pasteurisasi dengan cara memanaskan pada suhu 63?C selama 30 menit, pada suhu  72?C selama 15 detik, atau pada suhu 100?C selama 1 detik (mendidih). Selanjutnya, susu pasteurisasi tersebut didinginkan sebentar, lalu ditempatkan pada kontainer dan direndam dalam air dingin atau dialiri air dingin. Setelah dingin, susu dibungkus sesuai dengan ukuran yang diinginkan dan disimpan pada suhu dingin atau beku. Biasanya susu pasteurisasi tahan tahan 4-6 hari jika disimpan dalam suhu dingin (lemari es). Sementar itu, susu yang langsung disimpan beku bisa bertahan beberapa minggu.

  1. Pengepakan

Susu dapat langsung dibuungkus plastik (sesuai dengan ukuran yang diinginkan), lalu disimpan dalam freezer sebelum dijual ke konsumen. Cara ini banyak dilakukan peternak, selain relatif mudah dikerjakan, zat-zat aktif yang ada dalam susu kambing yang disebut life energy masih tinggi. Dengan demikian, manfaat dari mengonsumsi susu kambing terhadap perbaikan kesehatan tubuh lebih besar.

Susu kambing dapat diproses selanjutnya menjadi beberapa produk olahan, seperti susu aneka rasa (moka, stroberi, coklat dan vanila), yoghurt, karamel, permen susu, dan dodol susu. Pada industri pengolahan susu (IPS) modern, susu kambing dapat dibuat menjadi keju, tablet susu, dan susu serbuk/bubuk. Susu kambing dapat juga digunakan sebagai bahan kosmetika, seperti sabun, lulur, dan body  lotion.

  1. Pengangkutan

Dalam pendistribusian, susu yang diproduksi harus ditangani dengan baik. Tujuannya untuk memastikan kualitas susu tetap terjaga hingga sampai ditingkat konsumen. Susu yang telah dibungkus plastik sesuai dengan ukuran yang diinginkan, baik yang sudah beku ataupun cair ditempatkan dalam boks es atau boks stayrofoam yang ditutup rapat. Besarnya boks yang digunakan disesuaikan dengan jenis angkutan yang dipergunakan (mobil atau sepeda motor).

Mengeringkan Kambing Laktasi

Yang dimaksud mengeringkan kambing laktasi adalah mengurangi pemerahan sampai ternak tersebut tidak laktasi lagi. Frekuensi pemerahan dikurangi dari setiap 2 kali perhari menjadi 1 kali perhari. Setelah beberapa lama, pemerahan menjadi sekali setiap dua hari dan seterusnya sampai akhirnya produksi susu terhenti.
Namun, jika setelah 5-6 bulan laktasi dan ternak sudah bunting 3 bulan, sebaiknya pemerahan mulai dihentikan. Tujuannya untuk memberi kesempatan pada ternak dalam memperbaiki kondisi tubuh untuk persiapan laktasi berikutnya. Pada saat ini pertumbuhan anak dalam kandungannya juga sedang pesatnya. Kadang-kadang produksi susu sudah berhenti dengan sendirinya sebelum 5 bulan laktasi.