Kenapa Susu Kambing Bubuk Lebih Mahal dari Susu Sapi Bubuk

Kenapa susu kambing bubuk lebih mahal daripada susu sapi bubuk atau Kenapa Susu Kambing MIM lebih mahal dari Produk lain yang ada di pasaran ? pertanyaan ini paling sering ditanyakan konsumen kami dan  akan kami jawab dengan sebenar benarnya data, karena kami adalah produsen susu kambing bubuk, bukan makloon ke produsen lain atau istilahnya private label.

1. Satu Ekor Kambing Etawa dalam satu hari hanya menghasilkan 1 liter susu yang dipanen 500ml pagi dan 500ml sore sedangkan sapi dalam satu hari bisa menghasilkan 10 liter susu, bahkan sampai 20 liter untuk sapi jenis khusus. Untuk menyiasati hal ini maka beberapa produsen susu kambing bubuk menggunakan kambing jenis sanen atau senduro sehingga bisa meningkatkan produksi hingga 2 liter / hari. Tetapi Susu kambing MIM hanya dibuat dari 100% susu kambing ettawa tanpa campuran dari kambing jenis lain .

2. Harga 1 liter susu kambing etawa cair 25rb – 35rb/liter  sedangkan susu sapi cair hanya 6 rb hingga 8rb. Nah untuk Susu Kambing Organik MIM kami jual dengan harga 15rb/kantong isi 200ml ( 75rb/liter) karena kami jamin susu kambing berkualitas tinggi karena kambing ettawa di peternakan kami mengkonsumsi makanan organik terpilih seperti rumbut dan daun daunan ditambah makanan herbal seperti jahe, kunyit, temulawak, habbatusauda, telur dan madu, jadi di perternakan kami tidak menggunakan makanan pabrikan yang biasa disebut konsentrat, premix, booster yang berguna untuk merangsang susu kambing lebih banyak. Karena itulah kami berani memasang label organik untuk produk MIM.

3. Untuk mendapatkan 1 kg susu kambing bubuk dibutuhkan 10 liter susu cair, sehingga harga 1 kg susu kambing bubuk original tanpa campuran adalah 250rb-350rb /kg, yang artinya untuk setiap kemasan 100 gram adalah 25rb – 35rb. Itu diluar biaya produksi seperti SDM, Listrik, sewa tempat, Penyusutan dan perawatan mesin spray dryer. Nah karena susu kambing bubuk murni tidak akan tahan lama jika berdiri sendiri (kecuali langsung dikonsumsi ), oleh sebab itu ada bahan pencampurnya yang lazim digunakan adalah creamer / krimer, untuk creamer /krimer yang kami juga sudah tersertifikasi halal dari MUI.

Dari tulisan diatas tentu anda sudah bisa membayangkan berapa harga ideal susu kambing bubuk, Jika anda menemukan susu kambing bubuk dengan harga 10 rb – 15rb untuk kemasan 200 gr, maka Waspadalah karena jangan jangan bukan susu kambing bubuk  yang anda konsumsi melainkan creamer / krimer ditambah campuran susu kambing dengan kandungan dibawah 5% / kemasan.

Keunggulan Produk Susu Bubuk kambing Etawa MIM

1. Diproduksi dari asli kambing jenis etawa (bukan kambing sanen, jawa randu, senduro, alpin dll)
2. Dipelihara di pegunungan yang bebas polusi
3. kualitas susu lebih kental dan gurih
4. Volume susu lebih banyak
5. Kadar gula lebih sedikit
6. Tidak membuat mual karena tidak bau prengus
7. tidak menggunakan bahan kimia seperti pemutih maupun pengawet kimia
8. Dikemas dalam bentuk sachet agar lebih higenis
9. Tidak terkontaminasi udara sekitar ketika susu belum dikonsumsi bila menggunakan kemasan besar
10. menggunakan aluminium foil agar tahan terhadap kondisi cuaca sehingga kualitas tetap terjaga
11. Tahan hingga 6 bulan
12. kemasan elegant dangan penampilan menarik
13. Karena prosesnya higenis maka khasiatnya akan lebih terasa
14. Sangat disukai dan bisa dinikmati oleh semua umur baik anak-anak maupun dewasa

Penentuan Umur Kambing dan Domba

Alat yang paling akurat untuk menentukan umur seekor ternak adalah dengan melihat catatan tanggal lahir ternak bersangkutan. Namun, catatan ini sangat sulit diperoleh pada peternak tradisional. Padahal, umur ternak sangat penting diketahui untuk tujuan seleksi bibit, atau untuk memilih bakalan untuk digemukkan. Pendugaan umur ternak yang cukup akurat dapat dilakukan dengan melihat jumlah gigi permanen seperti terlihat pada tabel.

1. Belum ada gigi tetap (hanya ada gigi susu), Kurang dari 1 bulan
2. 1 pasang (2 buah) gigi tetap, 1-2 tahun (1 tahun 3 bulan-1 tahun 10 bulan)
3. 2 pasang (4 buah) gigi tetap, 2-3 tahun (1 tahun 10 bulan-2 tahun 4 bulan)
4. 3 pasang (6 buah) gigi tetap, 3-4 tahun (2 tahun 4 bulan-3 tahun 5 bulan)
5. 4 pasang (8 buah) gigi tetap, 4-5 tahun (>3 tahun)
6. Gigi tetap mulai aus atau tanggal, 5 tahun atau lebih

Perbedaan Kambing dan Domba

Orang awam sering sulit membedakan kambing dan domba. Sangat sering dijumpai orang berbicara kambing, padahal yang dimaksud adalah domba. Domba sering disebut kambing biri-biri atau kambing gembel karena bulunya yang agak tebal, lengket, dan kotor.
1.Taksonomi
Kambing dan domba termasuk dalam keluarga besar yang sama, yaitu ordo Artiodactyla, subordo Ruminansia, famili Bovidae, dan subfamili Caprinae, sedangkan genusnya berbeda.
2.Morfologi
Secara umum morfologi kambing dan domba mempunyai banyak persamaan. Namun, ada beberapa perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing.
a. Bagian kepala
Bagian kepala kambing dan domba ada yang bertanduk, ada juga yang tidak bertanduk. Ukuran dan bentuk tanduknya bernacam-macam, mulai dari kecil pendek sampai besar dan agak panjang. Bentuknya juga bervariasi, dari agak lurus sampai melingkar. Garis muka (hidung) umumnya agak lurus, tetapi kambing etawa dan peranakan etawa (PE) garis hidungnya agak cembung. Daun telinga juga bervariasi dalam bentuk dan ukuran, mulai dari telinga kecil sangat kecil (rumpung) pada domba garut, sedang sampai agak panjang ( 20-35 cm) seperti pada kambing etawa dan PE. Daun telinga umumnya terbuka lebar. Namun,
daun telinga kambing PE banyak dijumpai yang melipat.

b. Bagian tubuh
Bentuk tubuh dan ukuran masing-masing rumpun pada kambing dan domba berbeda-beda. Perbedaan tidak saja antarrumpun, dalam rumpun yang sama juga banyak dijumpai variasinya.
Bulu penutup tubuh kambing dan domba bervariasi sesuai rumpunnya. Bulu domba umumnya lebih panjang daripada bulu kambing. Bulu domba umumnya seperti wol (wolly). Namun, ada juga domba berbulu bukan wol yang disebut dengan domba rambut (hair sheep), seperti bulu kambing. Ada jenis kambing tertentu juga berbulu panjang yang disebut kasmir yang dapatdipergunakan sebagai bahan sandang yang bernilai ekonomi tinggi. Untuk kambing PE, bulu bagian tertentunya, seperti belakang paha dan leher, agak panjang tebal.
Bagian ekor bervariasi dalam ukuran dan bentuknya. Ekor domba bervariasi, mulai dari pendek sampai panjang. Bentuknya kurus sampai gemuk dan mengarah ke bawah. Ekor kambing umumnya kurus dan pendek serta mengarah ke atas. Walaupun demikian, jumlah tulang ekor kambing dan domba sama, yaitu terdiri dari sekitar 14 ruas.

c. Bagian kaki
Kambing dan domba termasuk ternak berkuku dua. Bentuk dan ukuran kaki sangat bervariasi sesuai rumpunnya, mulai dari kaki pendek pada kambing mini (dwarf) sampai agak panjang, seperti pada kambing etawa dan PE. Hal yang sama juga ditemukan pada ternak domba.

3. Anatomi dan Fisiologi
Berikut dijelaskan anatomi dan fisiologi kambing dan domba yang terdiri dari struktur tulang dan sistem pencernaan.

a. Struktur tulang
Struktur kerangka tulang pada kambing dan domba hampir sama. Kerangka merupakan tempat perlekatan daging dan lemak. Dengan demikian, secara umum besar kecil kerangka ternak akan berpengaruh terhadap produksi daging ternak tersebut. Tingkat peternakan antarrumpun dan dalam rumpun ternak bervariasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama pakan. Karkas domba umumnya mempunyai kandungan lemak yang lebih tinggi dari kambing.
b. Sistem pencernaan
Sebagai ternak ruminansia, kambing dan domba mempunyai lambung yang terdiri dari 4 bagian yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Keempat lambung tersebut terletak di depan usus halus. Retikulum dan rumen secara bersama-sama sering disebut sebagai retikulo-rumen dan bersama-sama dengan omasum ketiganya disebut perut depan (fore stomach). Abomasum dikenal dengan lambung sejati karena baik anatomis maupun fisiologinya sama dengan lambung nonruminansia.
Pencernaan pada ruminansia terjadi secara mekanis (di dalam mulut), fermentatif (oleh mikroba di dalam rumen), dan hidrolisis (oleh enzim pencernaan di abomasum dan usus). Adapun organ pencernaan yang penting adalah sebagai berikut.
1) Mulut
Di dalam mulut, pakan mengalami penghancuran pertama secara mekanis oleh gigi. Di dalam mulut, pakan juga mengalami pencampuran dengan saliva agar mudah ditelan. Saliva disekresikan ke dalam mulut oleh 3 pasang glandula saliva, yaitu glandula parotid yang terletak di depan telinga, glandula submandibularis (submaxillaris) yang terletak pada rahang bawah, dan glandula sublingualis yang terletak di bawah lidah. Saliva terdiri atas 99% air dan 1% sisanya terdiri atas mucin, garam-garam anorganik dan lisozim kompleks.
2) Rumen
Setelah mengalami pengunyahan di dalam mulut, pakan ditelan melalui faring dan melalui esophagus menuju rumen. Rumen adalah bagian terbesar (80%) dari lambung ternak ruminansia dewasa, sedangkan abomasumnya sekitar 7%. Pada ternak yang masih kecil (anak)abomasum adalah bagian terbesar (70%), sedangkan rumennya hanya sekitar 30%.
Fungsi utama rumen adalah tempat untuk mencerna serat kasar dan zat-zat pakan dengan bantuan mikroba. Mikroba tersebut hidup dalam suasana anaerob dan sebagian dapat hidup dalam suasana fakultatif anaerob. Mikroorganisme di dalam rumen mempunyai kemempuan membentuk vitamin B komplek dan vitamin A, yang pada gilirannya berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi ternakminduk semang.
Saluran pencernaan kambing dan domba tidak mengahsilkan enzim untuk mencerna selulosa. Selulosa tersebut merupakan bagian terbesar dari pakan berserat, yaitu 30-60% dari total bahan kering. Meskipun demikian, proses degradasi selulosa menjadi glukosa dapat berlangsung dengan cara hidrolisis asam atau secara biologis melalui hidrolisis enzimatis. Enzim selulase dihasilkan oleh mikroba dalam rumen. Enzim selulose merupakan enzim yang mampu menghidrolisis komponen serat yang difermentasi oleh mikroba rumen. Hasil fermentasinya berupa volatile fatty acids (VFA) berguna sebagai sumber energi utama bagi ternak (induk semang).
Ruminansia menyintesis asam-asam amino dari zat-zat yang mengandung nitrogen yang lebih sederhana melalui kerja mikroorganisme dalam rumen. Mikroba rumen mempunyai kemampuan merubah protein pakan yang berkualitas rendah dan nonprotein nitrogen (NPN) menjadi protein penyusun tubuh mikroba yang mempunyai komposisi asam amino ideal. Mikroba rumen yang mati hanyut bersama digesta masuk kedalam usus halus dan oleh ternak digunakan sebagai sumber protein yang berkualitas tinggi. Agar mikroorganisme di dalam rumen dapat hidup dan berfungsi dalam menjalankan proses fermentasi, diperlukan adanya suplai pakan secara teratur; hasil fermentasi harus disalurkan dan diserap; hasil sisa harus dikeluarkan, pH rumen dalam batas 5,5-7,0; dan temperatur rumen sekitar 38-42?C.
3) Retikulum
Retikulum terletak dibelakang rumen. Pada dinding retikulum terdapat papillae yang menbentuk alur/garis-garis yang saling berhubungan sehingga berbentuk deperti sarang lebah. Secara fisik, tidak terdapat batas yang jelas antara retikum dengan rumen sehingga kedua kompartemen tersebut sering disebut sebagai satu bagian, yaitu retikulorumen atau rumino-retikulum. Retikulum berfungsi mengatur aliran digesta dari rumen ke omasum.
4) Omasum
Permukaan dinding omasum berlipat-lipat dan kasar. Terdapat 5 lamina(daun) yang mempunyai duri (spike). Semakin mendekati abomasum, ukuran spike semakin kecil. Fungsi lamina adalah menyaring partikel digesta yang akan masuk ke abomasum. Partikel digesta yang masih terlalu besar tersebut akan dikembalikan ke retikulum. Selanjutnya, partikel digesta tersebut akan mengalami regurgitasi (dikeluarkan kembali ke mulut) dan remastikasi (dikunyah lagi).
5) Abomasum
Abomasum atau perut sejati pada ternak ruminansia berfungsi sebagai perut pada ternak nonruminansia. Pada dinding abomasum terdapat kelenjar-kelenjar pencernaan yang menghasilkan cairan lambung yang mengandung pepsinogen, garam anorganik, mukosa, asam hidrokhlorat, dan faktor interinsik yang penting untuk absorpsi vitamin B12 secara efisien. Pesinogen merupakan bentuk inaktif dari pepsin yang menghidrolisis protein. Pada lambung anak kambing atau domba terdapat renin yang berfungsi menggumpalkan susu agar menjadi lebih mudah dicerna.
Hasil utama pencernaan protein di dalam abomasum adalah polipeptida dengan rantai yang bervariasi dan sedikit asam amino.
6) Intestine (usus halus)
Intestine terdiri atas 3 bagian, yaitu duodenum, jejunum, dan ilium. Duodenum merupakan kelanjutan dari abomasum. Digesta yang masuk kedalam duodenum mengalami pencampuran dengan hasil sekresi dari duodenum itu sendiri, hati, dan pankreas. Kelenjar duodenum menghasilkan cairan alkalin yang berguna sebagai pelumas dan melindungi dinding duodenum dari asam hidrokhlorat yang masuk dari abomasum.
Proses penyerapan terjadi terutama di jejunum dan ilium. Pada ujung duodenum terdapat kelenjar empedu dan pankreas. Kelenjar empedu menghasilkan cairan yang berisi garam sodium dan potasium dari asam empedu, terutama asam-asam traukhlorat dan glikokholat garam ini berfungsi mengaktifkan enzim.
Usus halus berfungsi sebagai tempat penyerapan nutrisi lipase yang dihasilkan oleh pankreas dan mengemulsikan lemak digesta sehingga mudah diserap lewat dinding usus. Kelenjar empedu juga menghasilkan bilirubin dan biliverdin yang memberi warna pada feses dan urine. Kelenjar pankreas menghasilkan cairan enzim yang berfungsi menetralisir digesta asam dari lambung. Ketika asam memasuki duodenum, hormon sekretin dilepaskan dari epithelium usus halus ke dalam darah. Ketika mencapai pankreas, hormon tersebut merangsang sel-sel pankreas untuk menyekresikan cairan berisi ion-ion bikarbonat berkonsentrasi tinggi, tetapi hanya sedikit mengandung enzim.
Hormon lain, yaitu kolesitokinin (pancreozymin), juga dilepaskan dari mukosa ketika protein dan produk-produk digestif lain mencapai duodenum. Hormon ini merangsang sekresi pro-enzim dan enzim, seperti tripsinogen, kimotripsinogen, prokarboksipeptidase A dan B, proelastase, a-amilase, lipase, lesitinase, dan nuklease. Tidak seperti pesin, enzim-enzim ini memiliki pH optimal 7-9. Tripsinogen dikonversikan menjadi tripsin oleh enzim enterokinase yang dilepaskan dari mukosa duodenum. Aktivasi juga dikatalisa olehtripsin itu sendiri sehingga membentuk reaksi autokatalis. Tripsin juga mengonversikan kimotripsinogen menjadi kimotripsin yang aktif.
7) Usus besar
Ada 3 organ pokok yang terdapat di dalam kelompok usus besar, yaitu kolon, caecum, dan rektum. Pada saat digesta masuk ke dalam kolon, sebagian digesta yang mengalami hidrolisis sudah terserap sehingga materi yang masuk ke dalam kolon adalah materi yang tidak tercerna. Dalam kondisi normal, biasanya terdapat sejumlah materi yang resisten terhadap serangan enzim yang di sekresi-kan ka dalam saluran pencernaan.
Lignin sama sekali tidak terpengaruh oleh enzim sehingga tidak dapat dicerna. Jaringan yang mengalami lignifikasi mungkin mengikat dan melindungi protein dan karbohidrat dari serangan enzim.
Kelenjar yang terdapat dalam usus besar, terutama kelenjar mukosa, tidak menghasilkan enzim. Proses pencernaan di dalam usus besar terjadi karena adanya enzim dari intestine yang terbawa bersama digesta atau karena adanya aktivitas mikrobial. Aktivitas mikrobial yang besar di dalam usus besar terutama terjadi di dalam caecum. Bakteri yang terdapat di dalamnya, antara lain lactobecili, streptococci, coliform, bakteroid, clostridia dan ragi. Aktivitas organisme tersebut antara lain menghasilkan vitamin B, yang dapat diserap dan berguna bagi ternak. Hanya sedikit sekali digesta yang terserap lewat dinding usus besar. Materi yang tidak terserap kemudian dikeluarkan lewat anus sebagai feses. Materi yang keluar sebagai feses meliputi air, sisa-sisa pakan yang tidak tercerna, sekresi saluran pencernaan, sel-sel epitelium saluran pencernaan, garam-garam anorganik, bakteri, dan produk-produk dari proses dekomposisi oleh mikroba.

Sejarah Kambing dan Domba

Asia adalah pusat domestikasi kambing. Diperkirakan domestikasi kambing terjadi 9.000 sampai 11.000 tahun yang lalu. Kambing merupakan hewan ternak yang pertama kali dijinakan atau nomor dua setelah anjing. Nenek moyang ternak kambing tersebut diyakini berasal dari hewan bezoar atau kambing jinak (C. Aegragus Hircus) yang merupakan subspesies dari Capra aegragus(kambing liar aegragus).
Para ahli menggolongkan ternak menjadi 6 kelompok, yaitu berdasarkan daerah asal, kegunaan, ukuran tubuh, bentuk teling, panjang teling, serta tanduk. Penggolongan berdasarka daerah asal memberi petunjuk kemampuan adaptasi terhadap iklim dan kondisi lingkungan tertentu. Berdasarkan kegunaannya, kambing diklsifikasikan atas produk yang dihasilkan, yaitu susu (kambing penghasil susu/kambing perah), daging (kambing pedaging/kambing potong), dan bulu (khasmier).
Perbedaan ukuran tubuh kambing umumnya ditentukan dengan menggunakan tinggi pundak. Dengan cara ini, kambing digolongkan atas tiga kelompok, yaitu kelompok besar (di atas 65 cm), kecil (51-65 cm), dan kerdil atau mini (<50 cm). Kambing kelompok besar (berat tubuh 20-63 kg) untuk produksi daging dan/atau susu. Kelompok kecil (berat tubuh 19-37 kg) dan kelompok mini (berat tubuh 18-25 kg) dipelihara untuk produksi daging. Bentuk telinganya digolongkan berdasarkan daun telinga (terbuka lebar atau melipat) dan ukuran panjang telinga (pendek, sedang, dan panjang) yang sangat spesifik untuk tiap breed tertentu. Bentuk telinga sering menjadi faktor yang mempengaruhi harga ternak bersangkutan. Hal yang sama juga terjadi pada ternak yang digolongkan menjadi panjang, pendek, atau tidak bertanduk.
Ternak domba juga berasal dari Asia. Pusat asal domestikasi domba liar terjadi di padang rumput Arlo-Caspian, termasuk daerah di negara Iran dan Irak. Dari daerah tersebut, domba menyebar ke arah barat menuju Eropa dan Afrika, ke arah timur menuju daerah subkontinen India, Asia Tenggara, dan Oceania. Saat ini diketahui terdapat tujuh jenis domba liar yang terdiri dari sekitar 40 varietas. Jenis domba liar yang diperkirakan mempunyai andil dalam pembentukan domba yang ada dewasa ini adalah argali (Ovis ammon) dari Asia tengah, urial (Ovis vignei) dari asia, dan moufflon (Ovis muimon) dari Asia Kecil dan Eropa.

Mengenal Kambing dan Domba

Tak kenal maka tak sayang, mungkin ungkapan ini masih relevan diberikan untuk kambing dan domba. Banyak orang menganggap kambing dan domba tidaklah begitu penting bagi manusia. Kambing dan domba dianggap ternaknya orang miskin dan sering membuat masalah. Sebagian ada yang menganggap ternak tersebut, terutama kambing, adalah perusak lingkungan (perusak tanaman dan penyebab erosi). Persepsi negatif ini sangat tidak menguntungkan dalam pengembangan kambing dan domba untuk kesejahteraan masyarakat. Bahkan, pandangan negatif ini terus berkembang hingga ada kepercayaan mengonsumsi daging dan susu kambing/domba erat kaitannya dengan peningkatan kadar kolesterol darah sehingga berbahaya bagi kesehatan. Namun, jika dipelajari secara mendalam dan penuh kejujuran, kambing dan domba dapat memberi manfaat yang begitu besar bagi manusia dengan penyediaan daging, susu, kulit, dan pupuk organik.
Kambing dan domba merupakan bagian penting dari sistem usahatani bagi sebagian petani gurem di Indonesia, bahkan di beberapa negara Asia. Di Indonesia kambing dan domba dipelihara oleh mereka yang memiliki lahan terbatas, bahkan tidak mempunyai lahan seperti buruh atau penggarap. Sebaliknya, di negara maju, seperti Ausratlia dan New Zealand, domba telah menjadi industri pertanian yang mendatangkan devisa bagi negaranya. Dikedua negara maju tersebut industri peternakan domba berbasisi pada penggembalaan (pastura) dengan penguasaan lahan yang cukup luas dan jumlah pemilikan ternak yang cukup besar.
Kedua jenis ternak ini tidak mempunyai hambatan sosial dalam pengembangannya. Artinya, kambing dan domba dapat diterima oleh semua golongan masyarakat. Oleh karena itu, dibandingkan dengan ternak ruminansia besar (sapi dan kerbau), kambing dan domba mempunyai daerah penyebaran luas, mulai dari daerah dataran rendah di pinggir pantai sampai dataran tinggi di pegunungan. Tidak jarang pula pemeliharaan kambing dan domba ditemui di tengah dan pinggiran kota.

Cara mendeteksi susu kambing Etawa berprotein tinggi

Adapun ciri-ciri susu kambing bubuk yang baik dapat diketahui dengan melakukan beberapa percobaan sendiri, guna mengetahui kadar susu maupun bahan pencampurnya dalam produk susu bubuk yang beredar di pasaran diantaranya :

A. Mendeteksi kadar susu kambing
Susu Kambing bubuk bisa diketahui kadar susunya dengan cara diseduh air mendidih/dimasak hingga mendididih kemudian tuangkan kedalam gelas dan biarkan air susunya dingin kembali, akan muncul lapisan/kumpulan minyak pada permukaan susu, semakin banyak minyaknya bertanda semakin banyak kadar susunya

B. Mendeteksi kadar gula buatan atau gula alami
Gula selain sebagai pemanis ia berfungsi mediator pelarut dan pengawet pada makanan, sehingga susu bubuk dapat bertahan lebih lama. Mendeteksi gula dengan cara melihat tingkah laku binatang saat bila diberi susu, semakin banyak binatang yang suka (semut, kucing, kelinci) maka bisa dipastikan bahan yang dicampurkan aman dan alami, karena binatang memiliki insting yang tajam terhadap makanan yang mengandung kimia

C. Mendeteksi bahan pencampur non protein
Agar harga susu bubuk lebih hemat, produsen menggunakan bahan pencampur tambahan untuk menambah berat susu, namun pencampur non protein dapat dideteksi dengan cara mengkonsumsi langsung tanpa diseduh air, bila terdapat bahan yang kenyal atau lengket dan tidak mudah larut saat dihisap dengan air ludah, kita bisa mengetahui kadar pencampur non protein dalam susu bubuk tersebut

D. Tanda-tanda susu bubuk kambing etawa yang asli mudah dikenal dari fisiknya sebagai berikut :

1. Tepung susu berwarna kekuning-kuningan (kandungan kalsium tinggi)
2. Tidak mudah larut dalam air suhu normal
3. Muncul larutan minyak/lemak dipermukaan air
4. Krim susu dengan air menyatu dan tidak pecah/menggumpal
5. Setelah larut air susu lebih kental karena kadar susu lebih banyak
6. Aroma susu tercium nikmat dengan rasa manis dan gurih
7. Bau khas kambing tidak tercium menyengat

Perhatian :
kami sarankan kepada calon pelanggan bahwa alangkah baiknnya apabila produk susu kambing yang akan dibeli, oleh produsennya sudah dilakukan uji laboratorium perihal kandungan bakteri, bahan kimia dan logam beratnya, serta diakui oleh lembaga yang mengawasi hal ini seperti : Dinas Peternakan, Dinas Perindustrian, Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Lembaga Sertifikat halal

Susu Bubuk Kambing Etawa (MIM)

Kita ketahui bersama masyarakat Indonesia lebih familier dengan susu dalam bentuk formula (bubuk) dibandingkan dengan susu yang fresh (cair), dengan  ini kami mempersembahkan susu kambing bubuk terbaik.

Untuk itu guna menjaga kualitas susu kambing yang terkenal karena khasiatnya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. dibutuhkan keahlian khusus untuk tetap menjaga kualitas susu tidak kehilangan banyak nutrisi yang terkandung di dalamnnya. adapun kriteria yang kami terapkan dalam memproduksi susu kambing bubuk adalah :

1. Jenis kambing : Pemilihan jenis kambing etawa adalah faktor utama karena kambing yang akan diperah merupakan mesin produksi bahan baku susu, bila bahan baku yang dihasilkan pada awalnya sudah berkualitas rendah, walaupun diolah sedemikian rupa maka akan tetap menghasilkan kualitas yang rendah pula

2. Pakan kambing : Faktor pendukung agar kualitas susu yang dihasilkan kambing etawa lebih berkualitas, maka peternak berkewajiban memberi kambing tersebut makanan yang bergizi. Ibarat manusia membutuhkan nutrisi sempurna dalam makanan dan minuman sehari-hari yang kita kenal dengan istilah ” 4 sehat 5 sempurna”

3. Sumber pakan kambing : Ternyata untuk mendapatkan pakan kambing yang sehat dan bergizi perlu selektif memilih jenis dan ragamnya yang terdiri dari hijau-hijauan, protein, natrium, kalsium dll. agar kambing menjadi sehat dan menghasilkan susu yang menyehat pula

4. Lokasi peternakan : Udara yang bersih dan segar serta air minum kambing yang bebas limbah, tidak boleh kita abaikan. sebab bila lingkungan kambing sudah tercemar polusi dan limbah janganlah berharap kambing menjadi sehat apalagi susu yang dihasilkannya

5. Proses Pemerahan : Pemerahan merupakan tahapan yang tidak boleh dianggap sepele, lingkungan kandang yang bersih, kondisi fisik pemerah dan tempat penyimpanan hasil perahan

6. Proses Pengolahan : Untuk menjaga agar bakteri tidak mencemari susu dan Namun kualitas susu tetap ada, kami menggunakan metode pasteurisasi walaupun tidak menutup kemungkinan berkurangnya kadar nutri susu yang sangat dibutuhkan tubuh manusia.

7. Proses Pengemasan : Setelah melalui proses pengolahan dari cair menjadi bubuk, proses selanjutnya susu kami kemas dalam kemasan aluminium foil dan selanjutnya dimasukkan ke dalam box agar penampilannya lebih menarik

8. Proses Pemasaran dan Distribusi : Tahap akhir adalah pendistribusian ke seluruh wilayah Indonesia melalui jaringan sudah kami rencanakan sebelumnnya. Untuk para pebisnis yang ingin menjadi distributor atau agen dalam jaringan kami, silahkan mengajukan permohonan disertai biodata lengkap melalui e-mail : info@susukambingbubuk.com

Penjelasan Produk Susu kambing Bubuk Etawa (MIM)

Susu Bubuk Kambing Ettawa : “Tidak ada susu kambing terbaik selain susu kambing Ettawa”
Adalah minuman tradisional bermanfaat untuk menghindari alergi, membantu penyembuhan berbagai macam gangguan metabolisme tubuh dan menjaga stamina tubuh tetap fit

Komposisi :
Susu Kambing Murni dan gula alami. Diolah secara higenis, Tanpa pemanis buatan dan pengawet kimia

Uji Laboratorium :

Fisik dan Kimia      Satuan         Hasil
Lemak                                %                  5,32
Besi                              mg/kg         29,87
Natrium                         mg/kg         587,25
Kalium                       mg/kg     1028,93
Calsium                        mg/kg          723,96
Zinc                             mg/kg           4,64

Simpan ditempat yang sejuk dan kering

Cara penyajian :
1. Masukkan 1 sachet susu bubuk kambing ettawa ke dalam gelas
2. Tuangkan air suhu 40 derajat dengan ukuran 180ml
3. Aduk perlahan hingga bercampur merata
Catatan : Untuk khasiat yang lebih baik gunakan air minum dengan suhu normal

Kandungan mineral dalam susu kambing :
Mineral alkaline, Asam amino esensial, A2-betakasein, Enzim Xanthine Oxydase, niasin, Medium Chain Trygliseride (MCT), Lactoglobulin, Riboflavin, Lactoferin, lactoperoxidase, lysozyme dan peptide